Suara Kalimantan_SUDAH 38 hari terakhir Andira Rahma Dewi terbaring lemas di ruang ICU RS Restu Ibu, sejak pertama kali dirawat 17 Juni lalu. Dari berita yang selama ini dikemas, penyakit ini semula diduga Stephen Johnson Sindrom (suatu penyakit yang biasa disebabkan reaksi alergi terhadap obat-obatan, virus atau bakteri pada kulit dengan ciri-ciri luka pada kulit terutama bagian tungkai dan lengan bawah, mulut, usus, kornea, alat kelamin dan saluran kencing serta gejala demam dan panas).
Akan tetapi, diagnosis para ahli kedokteran menyimpulkan Andira terkena Necrotizing Vasculitis Granulomatosus. Suatu kategori penyakit langka yang menyerang lapisan kulit hingga jaringan lemak dan merusak syaraf kulit hingga menyerupai luka bakar. Kasus ini beda-beda tipis dengan Stephen Johnson Sindrom yang diklaim lebih ganas.
“Tapi ini bukan yang pertama kali terjadi,” kata Kepala DKK Balikpapan Dyah Muryani, kemarin. Dyah menyebut, penyakit yang diderita Andira adalah yang kedua kalinya sejak setahun terakhir. “Kami menemukan kasus yang sama di RSKD (Rumah Sakit Umum Kanudjoso Djatiwibowo) pada 2010. Korbannya juga Balita,” sebut Dyah, tanpa merinci nama korbannya.
Yang mengenaskan, pada penderita tahun lalu, terlambat ditangani karena virus sudah menjalar ke organ vital tubuhnya. “Tak sampai sebulan kemudian, korban meninggal,” jelas Dyah. Organ vital yang dimaksud seperti jantung dan ginjal. Sejauh ini, hal itu belum menimpa Andira. Untuk itulah tim dokter bekerja keras mencegahnya agar nasib Balita yangbercita-cita jadidokter itu tidak sampai makin buruk kondisinya. (Tim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar